Kamis, 28 April 2016

Habis Manis...Warung PKL (mungkin) Tergusur

Siang ini, datang sebuah pesan. Seorang petinggi meminta foto pedagang PKL yang berdagang di samping kanan kiri pintu masuk rumah sakit. Beliau sedang bersama petinggi Satpol PP, ngaten beliau berkabar.
Dari pesan tersebut pikiran saya mengarah pada penggusuran pedagang-pedagang tersebut, bila bukan penggusuran namanya bisalah disebut penertiban. Entah nanti dilarang beroperasi atau mungkin direlokasi.
Sejujurnya sedari awal berdinas di rumah sakit yang baru menginjak tahap "hampir beroperasi" ini, dari warung-warung merekalah teman-teman dan saya mendapat asupan makan pagi dan siang. Dekat, mudah, dan murah. Mendukung sekali keuangan kami yang ngepasi.
Tapi agak aneh rasanya, ketika gedung besar ini hampir siap, justru mereka tergusur karenanya. Ya memang sih, mereka secara legal mereka tidak memiliki ijin. Namun, menilik hati, kok sedikit tidak tega. Seperti siang ini ketika beberapa teman dan saya kembali menyambangi salah satu warung tenda untuk makan siang. Pikiran saya justru berkutat dengan rasa gelisah akan kelangsungan warung tersebut. Iya kalau si Ibu langsung bisa mendapatkan tempat baru, kalau belum? Sempat terpikir habis manis sepah dibuang.
Belum ada keputusan resmi mengenai kelangsungan warung-warung tersebut. Semoga saja ada pilihan baik bagi mereka.

Ah untungnya saya bukan masuk urusan per-hukum-an, akan sulit bagi saya untuk hal-hal seperti ini.

Rabu, 20 Januari 2016

Dengan Cara yang Baik

Aku suka banget cara Ibu memperlakukan anak didiknya; dengan sabar, dengan perhatian, dengan kata-kata yang halus, dengan cara yang halus. Berujung menjadi seorang yang dihormati dan disayangi, bukan ditakuti.

Yaa... walaupun gagal menjadi guru, paling ga nanti bisa diaplikasiin kalo punya anak sendiri. :))

Minggu, 17 Januari 2016

Pewaris Mbah Putri

"Mbah Putri itu ndak pernah bikin kecewa orang, ndak pernah bikin ribut, ndak serakah," Bapak said.

Semoga aku termasuk pewaris Mbah Putri, sahaja.

*Mbah Putri meninggal dunia ketika aku berumur 2/3 tahun, jadi aku haya mengenal Beliau dari cerita putra putrinya.

Selasa, 05 Januari 2016

Membersamai Anak

"Wajar lah namanya orang tua ngingetin"
"Lagian buat mereka tuh ya, kadang mengoordinasi dan mengingatkan itu jadi kebutuhan mereka sebagai orang tua."
"Malah bingung kadang lho kalo anaknya kelihatan nggak butuh orang tua."
"Kaya useless."

Menjadi mandiri itu baik, tapi juga jangan lupa melibatkan orang tua dalam setiap langkah. Bukan dalam rangka merepotkan atau manja, tapi dalam rangka mengijinkan mereka untuk merasakan bahwa mereka tetap membersamai langkah anak-anaknya, di kala kita (anaknya) telah dapat berlari.

Sabtu, 19 Desember 2015

Dua puluhan

Beberapa kali membaca tulisan MasGun, yang membahas mengenai usia dua puluhan, dimana tiba usia pembuktian dan pencarian, dimana keputusan yang diambil bisa berpengaruh terhadap banyak hal, bisa menjadi panjang alurnya... Usia dimana mengusahakan kesepakatan dengan orang tua menjadi seni dalam pencapaiannya.

Maka di masa ini pun aku. Berada di lingkungan ini, dengan orang-orang baik ini, yang terus menggiring keluar hal2 yang saya anggap tak-apa-jika-saya-begini-saja di ruang aman. Namun konsekuensinya pun harus ditanggung, mengalami yang sebelumnya dihindari, mengalami yang sebelumnya ditakuti. Untuk itu harus mengeraskan hati. Hidup ini keras dik, tak selamanya bisa hidup sebagai manusia normatif.

Berjuang melawan arus memang tak senyaman berenang mengikuti kemana sungai mengalir, kadang bertemu kerikil, kadang arusnya terlampau deras. Tapi percaya saja, nanti ada. Untuk hal ini aku masih sulit membedakan, mana yang masih boleh dilakukan dan mana sudah di luar aturan. Beberapa bilang "sudah, jangan terlalu normatif". Bzz. Ketika sudah kejadian, sendiri yang ditakuti.

Namun seperti di awal tadi, waktu waktu ini adalah penentuan. Untuk yang sudah berlalu dan yang tidak sempat menjadi kenyataan atau yang menjadi kenyataan yang salah, biarlah. Masih punya waktu, tinggal mau memperbaiki dan merancang atau pasrah saja. Perlu mengeraskan hati memang, belajar. (dan sedikit bijak tentang mana cara yang baik.)

"Kamu sudah dewasa, kamu tau apa yang harus dilakukan".